Tuesday , July 21 2026
Mahasiswa Universitas Pertamina Sulap Air Gambut Jadi Air Bersih

Mahasiswa Universitas Pertamina Sulap Air Gambut Jadi Air Bersih

Punya sumber air melimpah bukan jaminan warga bisa langsung memanfaatkannya. Itulah yang dialami jutaan masyarakat di kawasan lahan gambut Indonesia. Air di sekitar mereka memang berlimpah, namun warnanya cokelat pekat, rasanya asam, dan kandungan zat organik serta logamnya cukup tinggi sehingga tidak bisa langsung dikonsumsi. Kondisi tersebut dialami sekitar 41 juta penduduk yang tinggal di wilayah gambut dan harus mengolah air baku terlebih dahulu sebelum bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Menjawab persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina turun tangan merancang solusi yang aplikatif. Tim yang beranggotakan Muhammad Karunia Vivaldi, Geovanny Tampubolon, Monica Septyani, Muhammad Raihan Rachman, dan Tiara Wulan Win Nedhari merancang Instalasi Pengolahan Air atau IPA Gambut Skala Komunal. Rancangan tersebut lahir dari pembelajaran Capstone Design, sebuah metode belajar yang mendorong mahasiswa Universitas Pertamina menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat, bukan sekadar teori di ruang kelas.

Desa Indrapura dipilih sebagai lokasi studi kasus karena karakteristik wilayahnya dianggap mewakili tantangan penyediaan air bersih yang umum dijumpai di kawasan lahan gambut. Vivaldi selaku Ketua Tim menjelaskan bahwa konsep utama dari rancangan tersebut adalah menyesuaikan setiap tahapan pengolahan dengan karakteristik air baku setempat, sekaligus memperhitungkan proyeksi kebutuhan air masyarakat hingga dua puluh tahun mendatang. Pendekatan jangka panjang tersebut membuat sistem yang dirancang tidak berhenti sebagai solusi sesaat, melainkan berpotensi diterapkan secara berkelanjutan dan dikembangkan pula di wilayah lahan gambut lain yang menghadapi persoalan serupa.

Sebelum masuk ke tahap perancangan, tim lebih dulu menguji kualitas air gambut di Desa Indrapura secara langsung. Hasilnya cukup mengejutkan karena tingkat keasaman atau pH air hanya berkisar di angka tiga, jauh dari standar air minum yang aman yaitu 6,5 hingga 8,5. Selain rasanya yang asam, warna air pun cokelat pekat dan kandungan besi serta mangannya melampaui baku mutu yang ditetapkan. Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim dalam menyusun rangkaian pengolahan yang tepat agar air benar-benar layak digunakan oleh warga.

Dalam proses perancangan, banyak aspek yang dipertimbangkan tim mahasiswa Universitas Pertamina, mulai dari efektivitas pengolahan, biaya pembangunan, kebutuhan lahan, hingga kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan oleh masyarakat setempat. Sebab, secanggih apa pun sebuah sistem, akan percuma jika warga kesulitan mengoperasikannya kelak. Rangkaian pengolahan yang dirancang terdiri atas beberapa tahap, dimulai dari menurunkan tingkat keasaman air, menyaring berbagai zat pencemar, hingga tahap pemurnian akhir menggunakan teknologi Reverse Osmosis atau RO. Melalui rangkaian proses tersebut, air yang semula berwarna cokelat pekat dan mengandung besi serta mangan tinggi berhasil diubah menjadi air yang memenuhi standar kualitas air bersih.

Bagi Vivaldi dan timnya, keberhasilan sistem tidak cukup diukur dari sisi teknis semata. Sistem yang dirancang harus efektif mengolah air gambut sekaligus mudah dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat agar dapat bertahan dalam jangka panjang. Harapan besar disematkan agar teknologi tersebut kelak menjadi solusi berkelanjutan bagi desa-desa lain yang menghadapi persoalan air bersih serupa, tidak hanya di Sumatera tetapi juga di wilayah gambut lain di Indonesia.

Dosen pembimbing dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, Dr.Eng. Ari Rahman, S.T., M.Eng., turut memberikan apresiasi atas inovasi yang dihasilkan mahasiswa bimbingannya tersebut. Menurutnya, karya semacam itu membuktikan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi mampu menghasilkan solusi konkret atas persoalan yang dihadapi masyarakat luas. Melalui mata kuliah Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan atau PTBL, mahasiswa tidak hanya diasah kemampuannya dalam menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga dilatih merancang solusi berbasis data yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan agar dapat benar-benar diterapkan di tengah masyarakat.

Apresiasi serupa juga datang dari Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., yang menilai inovasi tersebut sebagai wujud nyata pembelajaran yang berorientasi pada penyelesaian persoalan di masyarakat. Pengembangan solusi untuk akses air bersih disebutnya sebagai bagian dari komitmen kampus dalam mendukung pencapaian SDG 6 mengenai Clean Water and Sanitation. Ia menambahkan bahwa capaian sebagai perguruan tinggi swasta peringkat keempat terbaik di Indonesia pada kategori SDG 6 dalam THE Impact Rankings 2026 menjadi motivasi tersendiri bagi Universitas Pertamina untuk terus menghasilkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

Kisah mahasiswa Teknik Lingkungan tersebut menjadi bukti bahwa ruang kelas bisa melahirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, bukan sekadar tugas akhir yang berhenti di atas kertas. Bagi kamu yang tertarik mengasah kemampuan serupa dan ingin berkontribusi menyelesaikan persoalan lingkungan di Indonesia, kini saatnya bergabung bersama mereka. Yuk, segera cek Pendaftaran Universitas Pertamina dan mulai langkah pertamamu menuju karier yang berdampak nyata.